Sabtu, 07 Juli 2012

Mengatur Pengeluaran

Oleh karena pengeluaran setiap orang berbeda, dan saya tidak mungkin mengetahui berapa besar pengeluaran Anda, saya akan berikan tiga hal yang harus Anda perhatikan dalam mengatur pengeluaran.
1. Bedakan kebutuhan dan keinginan.
2. Pilihlah prioritas terlebih dahulu.
3. Ketahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran.

1. Bedakan kebutuhan dan keinginan
Pernahkah Anda melihat orang yang profilnya persis sama dengan Anda? Oke, katakan saja Anda seorang wanita berusia 30-an. Anda seorang ibu rumah tangga. Suami anda berusia 35 tahun, ganteng, dan bekerja di sebuah perusahaan besar sebagai manajer. Anda dikaruniai dua orang anak; satu masih duduk di kelas 1 SD dan yang satu lagi di TK. Anda tinggal di pinggiran sebuah kota yang cukup besar di Jawa. Katakan saja penghasilan Anda sekeluarga sekitar sekian juta rupiah sebulan.
Menariknya, Anda melihat ada seorang wanita yang profilnya sama seperti Anda. Berumur sekitar 30-an, ibu rumah tangga, suami berusia 37 tahun yang bekerja sebagai manajer senior dengan penghasilan kurang lebih sama dengan keluarga Anda. Mereka juga dikaruniai dua orang anak, yang pertama kelas 3 SD dan yang
kedua mau masuk SD. Tempat tinggal mereka pun ternyata tidak jauh dari area Anda.
Apa yang membuat penasaran, keluarga yang Anda lihat itu─walaupun berpenghasilan kurang lebih sama dengan keluarga Anda─bisa memiliki gaya hidup yang serba berkecukupan. Tidak mewah, tapi cukup. Mereka sepertinya Atur Pengeluaran Anda 14 tidak pernah kehabisan uang setiap tanggal 20 , bisa mempunyai reksadana, dan selalu bisa membayar pengeluaran-pengeluarannya. Sementara keluarga Anda,
baru tanggal berapa, uang sudah habis; rasanya penghasilan Anda tidak pernah cukup.
Pertanyaannya sekarang, kok bisa? Apa sih yang membedakan?
Pengalaman saya, kalau dua keluarga memiliki penghasilan kurang lebih sama, usia sama, semua profilnya sama, tapi yang satu selalu bisa hidup berkecukupan sementara keluarga yang satu lagi tidak, biasanya keadaan ini disebabkan oleh perbedaan keinginan. Sekali lagi, perbedaan keinginan, bukan perbedaan kebutuhan.
“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan”
Ya, kebutuhan dua keluarga tersebut kurang lebih sama. Sembako, transportasi, telepon, pulsa HP, dan seterusnya, pasti sama. Perbedaannya adalah keinginan. Keluarga yang satu mungkin memiliki keinginan yang tidak ada batasnya, sementara keluarga yag satu lagi tidak. Bisa juga dua keluarga tersebut memiliki keinginan yang sama banyaknya, tapi keluarga yang satu bisa mengendalikannya sehingga bisa memiliki tabungan dan deposito. Sebaliknya, keluarga yang satunya lagi tidak bisa mengendalikan keinginan sehingga tidak bisa memiliki tabungan dan deposito.
Apa beda kebutuhan dan keinginan?
Dari segi bahasa, “butuh adalah kata sifat yang menunjukkan bahwa Anda memang harus melakukan satu hal (apa pun itu) karena memang di-“butuh”-kan. Misalnya, membayar ini atau membayar itu yang memang menjadi kebutuhan. Sebaliknya, “ingin” menunjukkan bahwa tindakan yang Anda lakukan lebih karena Anda memang meng-“ingin”-kannya.
Pada kenyataannya, “butuh” dan “ingin” juga memiliki perbedaan-perbedaan lain yang sering kali tidak kita sadari sehingga kita sering melanggarnya. Pertama, “butuh” adalah satu hal yang harus kita prioritaskan, sementara “ingin” bisa dilakukan dilakukan setelah yang “butuh” terpenuhi. Namun faktanya, kebanyakan kita sering kali memakai gaji untuk hal-hal yang memang kita “inginkan” terlebih dahulu sebelum membeli hal-hal yang kita “butuhkan”. Jadi, pantas saja banyak orang yang sudah kehabisan uang bahkan sebelum mereka membeli kebutuhan-kebutuhannya. Ini terjadi karena mereka mendahulukan keinginan daripada kebutuhan.
Kedua, “butuh” umumnya ada batasnya, tapi “ingin” biasanya tidak. Kebutuhan membeli sembako, membayar transportasi, pulsa HP, pasti ada batasan rupiahnya, jumlahnya pasti segitu-gitu saja. Akan tetapi, “ingin”, biasanya tidak ada batasnya. Apa pun yang Anda lihat di toko atau mal saat ini bisa jadi Anda inginkan. Bahkan setiap kali Anda datang ke toko atau ke mal, setiap kali itu juga biasanya keinginan Anda untuk membeli jadi besar. Tidak ada jaminan bahwa keinginan Anda setiap bulan akan terus sama jumlahnya kalau dilihat dari rupiahnya. Bisa jadi lebih besar pada bulan tertentu, menurun di bulan depannya, tapi meningkat dua kali dibanding bulan pertama pada bulan ketiga. Jadi, kenapa gaji Anda sering kali habis?
Pada beberapa kasus adalah karena kita, selain mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, juga memiliki keinginan tidak terbatas. Padahal, kalau hanya difokuskan pada kebutuhan, biasanya gaji Anda cukup. Ketiga, “butuh” biasanya tidak selalu Anda “inginkan” dan “ingin” biasanya tidak selalu Anda “butuhkan”. Apa pun yang Anda beli karena Anda butuhkan seperti sembako, pulsa HP, membayar telepon, listrik, dan seterusnya tidak selalu Anda inginkan. Beberapa di antaranya bahkan tidak Anda inginkan sama sekali, tapi
karena Anda butuh, ya Anda beli. Sebaliknya, barang-barang yang Anda beli karena memang “ingin”, kadang-kadang tidak selalu Anda butuhkan, tapi toh Anda beli juga karena memang Anda ingin. Baju bagus misalnya (padahal baju Anda sudah penuh sampai satu lemari), HP keluaran terbaru, atau hal-hal semacam itu.

2. Pilihlah prioritas terlebih dahulu
Masih ingatkah Anda berapa pos pengeluaran yang biasa Anda lakukan setiap bulan? Mencapai 20─25 pos, bukan? Apa yang harus Anda lakukan adalah membagi pos-pos pengeluaran tersebut menjadi 3 kelompok: Biaya Hidup, Cicilan Utang, dan Premi Asuransi.
Biaya Hidup adalah semua pos pengeluaran yang biasa Anda lakukan agar Anda, keluarga Anda, serta rumah Anda bisa tetap hidup. Contohnya sembako (agar Anda dan keluarga bisa tetap hidup), telepon, listrik, dan air (agar rumah Anda bisa tetap hidup), SPP anak dan semacam itu (agar anak Anda bisa menjalani hidupnya), dan seterusnya.
Cicilan Utang adalah semua pos pembayaran utang yang biasa Anda lakukan setiap bulan, seperti pembayaran cicilan rumah, cicilan kendaraan, cicilan kartu kredit, dan seterusnya.
Premi Asuransi adalah semua pengeluaran yang Anda lakukan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran asuransi Anda, seperti asuransi jiwa, asuransi kesehatan, atau asuransi kerugian, seperti asuransi rumah dan asuransi kendaraan.

Kalau saya mengatakan bahwa Anda mempunyai tiga kelompok pengeluaran dan Anda harus memilih satu saja yang harus Anda prioritaskan, kelompok mana yang Anda pilih?
Pasti jawaban Anda adalah Biaya Hidup. Betul?
Anda Salah!
Biaya hidup memang penting, tapi ingat bahwa pos Biaya Hidup itu banyak sekali. Kebanyakan pos dalam kelompok Biaya Hidup tidak akan bermasalah kalau pembayarannya Anda geser selama 3─4 hari lebih lambat dari biasanya.
Belanja bulanan, misalnya. Tidak apa-apa ‘kan kalau Anda menggeser pembayarannya lebih lambat 3, 4, 5 hari? Makanya jangan melakukan Belanja Bulanan saat semua kebutuhan Anda habis.
Jadi, apa yang sebaiknya diprioritaskan dari tiga kelompok tadi? Saran saya, Cicilan Utang!
Kenapa? Pertama, jumlah pos dalam kelompok Cicilan Utang di sebuah keluarga biasanya tidak sebanyak jumlah pos dalam kelompok Biaya Hidup. Kalaupun Anda mempunyai utang paling banter Cicilan Utang Anda tidak sampai 5 atau 7 pos: cicilan rumah, cicilan motor, cicilan mobil, dan kartu kredit kalau Anda nyicil …
Kedua, pos Cicilan Utang biasanya mempunyai akibat tersendiri kalau Anda tidak membayarnya. Apa itu? Denda! Biasanya denda dihitung per hari. Selain itu, saldo utang yang belum Anda bayar hanya gara-gara telat sering kali akan kena bunga lagi. Padahal, Anda hanya telat bayar beberapa hari. Setelah Anda membayar Cicilan Utang, prioritas kedua ialah menggunakan gaji Anda untuk membayar pos-pos Premi Asuransi. Kenapa? Kalau Anda telat membayar Premi Asuransi, proteksi yang Anda miliki dari program asuransi bisa hilang. Bukan satu dua kali saya mendengar banyak nasabah yang tidak dibayarkan klaim asuransinya gara-gara preminya terlambat dibayar. Padahal, hanya terlambat beberapa hari. Jadi, setelah menggunakan gaji untuk membayar Cicilan Utang, gunakanlah untuk membayar Premi Asuransi.
Nah, prioritas ketiga, barulah membayar pos-pos dalam kelompok Biaya Hidup. Dijadikan prioritas ketiga bukan berarti Biaya Hidup tidak penting, tapi karena Anda ingin mendahulukan kelompok-kelompok pengeluaran lain yang memang “berbahaya” kalau telat bayar.
Jadi, urutan prioritas yang saya sarankan ialah Cicilan Utang, kemudian Premi Asuransi, dan terakhir Biaya Hidup.

3. Ketahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran
Masih ingatkah Anda ketika saya meminta Anda menuliskan pos-pos pengeluaran? Nah, hal ketiga yang harus anda lakukan adalah mengetahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos tersebut.
Pos-pos pengeluaran Anda sampai 20-an; telepon, listrik, air, sembako, iuran arisan, transportasi, dan lain-lain. Nah, yang harus Anda lakukan adalah mengetahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk pembayarannya.
Contohnya, Anda harus mengetahui cara yang baik dalam menggunakan telepon agar pembayaran Anda di Akhir bulan tidak mahal. Misalnya, pakailah telepon seperlunya, hati-hati dengan penggunaan internet, jangan sering menghubungi handphone kalau tidak perlu. Oke, kita bicara tentang listrik. Anda juga harus tahu bagaimana menggunakan listrik agar pembayaran Anda tidak mahal. Misalnya, matikan alat elektronik kalau Anda memang sedang tidak memakainya, kurangi pemakaian alat elektronik secara bersamaan pada waktu tertentu, ganti lampu yang boros dengan lampu hemat energi, dan seterusnya. Kita tidak membahas semua pos pengeluaran karena akan banyak memboroskan waktu. Satu hal yang ingin saya tekankan disini: bila Anda ingin mengetahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran, lakukan satu
kata yang sudah sering kita dengar selama hidup kita. Apa itu? Penghematan!!!
Selama bertahun-tahun, saya mempunyai pemahaman yang salah dengan kata “berhemat”. Kenapa? Buat saya, berhemat sering kali identik dengan hidup menderita. Bukan satu dua kali saya mendengar orang bilang, “Kalau mau hemat, jalan kaki aja …”
Itulah kalimat yang sering dipakai untuk menggambarkan bagaimana image orang tentang kata hemat. Ibaratnya, kalau Anda biasa berkendaraan sendiri dari rumah ke tempat kerja, sekarang Anda nggak usah membawa kendaraan kalau mau hemat, jalan kaki aja.
Beberapa tahun terakhir, saya baru menyadari bahwa pemahaman saya terhadap kata “hemat” tenyata nggak benar. Hemat, adalah mencari cara agar Anda bisa mengeluarkan uang yang lebih sedikit untuk bisa mencapai tujuan yang sama. Misalnya, Anda akan pergi dari Jakarta ke Medan dengan pesawat. Anda tahu
harga tiket pesawat dari airline tertentu, dari Jakarta ke Medan, katakanlah Rp.700 ribu. Anda ingin berhemat. Pemahaman orang tentang penghematan biasanya mengganti perjalanan pesawat tersebut dengan menggunakan perjalanan darat.
Naik mobil, misalnya, atau naik bus eksekutif, yang berarti Anda harus menghabiskan waktu lebih dari 24 jam di perjalanan. Tenyata yang benar, penghematan bisa juga Anda lakukan dengan mencari alternatif maskapai penerbangan lain, yang siapa tahu bisa memberikan harga lebih murah. Jadi, Anda tetap naik pesawat dan tetap menempuh jam perjalanan yang sama (kurang lebih 2 jam), tetapi dengan harga lebih murah. Dari sinilah saya lalu membuat kalimat sederhana yang sering saya munculkan ketika saya seminar: “Ketika Anda berhemat, berhematlah secara kreatif, bukan menderita …”.
Jadi, berhematlah. Dengan mengetahui cara berhemat, Anda bisa mengetahui dan mencari tip mengeluarkan uang secara bijak untuk setiap pos pengeluaran.




Sumber: Safir Senduk
Edited by CG

Sabtu, 21 Januari 2012

Benarkah Orang-Orang Sulit Itu Sulit?

 

Salah satu tantangan pelik dalam tugas kepemimpinan adalah orang-orang yang kita sebut sebagai orang sulit. Nyaris disemua organisasi ada saja orang yang disebut sebagai orang sulit ini. Alasan mereka disebut orang sulit adalah karena sikapnya menimbulkan kesulitan bagi orang lain, khususnya atasan dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerja dengannya. Pertanyaannya adalah; Apakah mereka yang menjadi ’orang sulit bagi kita’? Ataukah kita yang justru merupakan orang sulit bagi mereka? Merenungkan pertanyaan itu bisa membantu kita untuk melihat lebih jernih dan mengambil tindakan yang lebih konstruktif.
 
Film The Horse Whisperer berkisah tentang seekor kuda yang mengalami trauma setelah tertabrak trailer di New York City. Mengingat lukanya yang parah, dokter hewan menyarankan untuk lakukan eutanasia. Namun pemiliknya bersikukuh untuk mempertahankannya. Kuda itu sembuh secara fisik, tapi secara mental tetap sakit. Dia berubah menjadi sangat ganas melebihi keganasan kuda liar dialam bebas. Kuda itu membenci manusia, khususnya sang pemilik yang menungganginya saat kecelakaan terjadi. Di pegunungan Montana, ada seorang koboi yang cakap mengurus kuda hingga dijuluki sebagai Sang Pembisik Kuda. Melalui perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya kuda itu berhasil disembuhkan kembali. Manusia, bisa lebih liar dari hewan. Tetapi manusia memiliki perangkat akal dan nurani dengan derajat yang jauh melampaui mahluk manapun. Makanya, seliar-liarnya manusia; selalu punya peluang untuk menjadi pribadi yang berbudi. Apalagi sekedar orang yang kita sebut sebagai ’orang sulit’, tentu bisa menjadi orang yang mudah bekerjasama. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami orang sulit, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1.      Jadilah orang yang ‘mudah’ bagi orang lain. Ini adalah prinsip paling mendasar yang sering dilupakan orang. Dalam pengamatan saya, begitu banyak orang yang menilai orang lain sebagai orang yang sulit padahal dia tidak menyadari bahwa dirinyalah sebenarnya orang yang sulit itu. Sebuah hubungan tidak bisa disokong oleh satu pihak; Anda saja, atau dia saja. Harus Anda dan dia. Jika Anda dan dia sama-sama sulit, maka hubungan itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Jika Anda mudah dan dia sulit, maka Anda masih punya peluang untuk tetap menjaga performa. Namun jika yang sulit itu justru Anda bukan dia, maka Anda nyaris tidak memiliki harapan untuk memperbaiki keadaan selama tidak menyadarinya. Jadi, langkah paling awal yang mesti kita ambil adalah memastikan bahwa kita sendiri bisa menjadi orang yang mudah bagi orang lain. Maka sekarang, mata kita tidak sepenuhnya tertuju kepada orang lain; melainkan berintrospeksi kedalam diri sendiri juga. Anda yakin Anda bukan orang sulit? Tidak ada salahnya jika mengeceknya sekali lagi.
2.      Fahami kebutuhan emosionalnya. Perhatikanlah sekali lagi orang-orang yang kita beri label sebagai orang sulit itu. Ternyata mereka bisa bekerjasama dengan sangat baik bersama orang-orang tertentu. Apa yang menyebabkannya tidak bisa bekerjasama dengan kita? Begitulah pertanyaan yang selayaknya kita ajukan. Hambatan emosional sering menjadi faktor penyebab yang paling menonjol. Akarnya bisa dari hal yang sangat sederhana, sampai kepada hal yang rumit hingga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Untuk memahaminya, Anda bisa mengamati dari jauh, atau berdiskusi dengan orang-orang yang bisa bekerjasama dengannya. Atau lebih banyak menyediakan diri untuk mengenal orang itu lebih mendalam. Seseorang yang sulit misalnya, ternyata hanya membutuhkan pengakuan atas senioritasnya dari atasannya yang lebih muda. Setelah pengakuan itu didapatkan, dia menjadi respek kepada sang atasan. Merasa lebih berpengalaman atau pernah memimpin lebih banyak orang juga demikian. Boleh jadi, ada kebutuhan emosi lainnya yang perlu kita kenali dan fahami. Jika dengan orang lain dia bisa bekerjasama dengan baik, maka tentu kita pun bisa mengelola orang itu dengan lebih baik melalui pemahaman terhadap kebutuhan emosionalnya.
3.      Fahami masalah yang melatarbelakanginya.  Setiap orang memiliki alasan untuk suka atau tidak dalam berhubungan dengan orang lain. Maka apakah seseorang suka atau tidak suka bergaul dan bekerjasama dengan Anda, tentu ada latar belakangnya. Misalnya, seseorang mengatakan kepada saya sambil marah-marah; ”saya ini juga pernah menjabat seperti kamu selama 10 tahun, bla bla bla,” Lalu beliau membeberkan fakta tentang betapa mengecewakannya kepemimpinan saya. Saya menghormati penilaiannya, namun saya tegaskan bahwa caranya berbicara dengan saya sama sekali tidak bisa memperbaiki keadaan. ”Anda ingin semuanya berjalan lebih baik?”. Tidak ada jawaban yang lebih pintar atas pertanyaan itu selain mengiyakan. ”Jika demikian,” lanjut saya ”marilah kita bicarakan baik-baik.” Dalam perbincangan selanjutnya beliau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya di rumah hingga menjadi mudah marah dan cepat emosi. Saya hanya menunjukkan respek dan empati, tidak lebih dari itu. Di akhir pembicaraan saya dipeluknya sambil dihujani permintaan maaf atas sikapnya selama ini. Dan saya mengimbanginya dengan kesadaran bahwa memang sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani orang-orang yang saya pimpin semaksimal mungkin. Sejak saat itu, hubungan kami menjadi sangat baik. Ini kejadian sungguhan. Pada awalnya saya pun ikut terbawa suasana sehingga menilai beliau sebagai orang yang sulit. Tetapi setelah memahami latar belakangnya, terbukalah jalan untuk memperbaiki kualitas hubungan.
4.      Seimbang antara tuntutan dan kemanfaatan. Sulitnya seseorang untuk diajak kerjasama bisa jadi karena mereka tidak melihat manfaat bagi dirinya sendiri. Misalnya, seorang bawahan yang menilai atasannya tidak bisa memperjuangkan kepentingannya. Mereka tentu akan cuek melebihi bebek. Terlebih lagi jika atasannya terlalu banyak menuntut. Bawahan Anda, akan semakin sulit dikelola jika Anda tidak dapat menyeimbangkan antara tuntutan dengan manfaat yang bisa Anda berikan kepada mereka. Bahkan sahabat baik Anda pun cepat atau lambat akan mempertanyakan; ‘mengapa gue mesti mendukung elu yang cuma bisa membesarkan nama elu doank?’ Faktanya, masih banyak atasan yang terlalu sibuk mempertahankan posisi atau imej pribadinya dihadapan atasan yang lebih tinggi. Hingga mereka lupa bahwa kinerjanya justru sangat ditentukan oleh bawahan. Sama seperti halnya Anda yang ‘mengharapkan’ sesuatu dari atasan Anda, maka bawahan Anda pun mengharapkannya dari Anda. Seseorang yang percaya bahwa atasannya bisa melakukan sesuatu untuk membantu pengembangan karirnya, tentu akan lebih respek dan mudah diajak kerjasama. Maka menunjukkan kepada orang lain bahwa kehadiran kita bisa memberi manfaat bagi mereka merupakan faktor penting untuk melunakkan orang-orang sulit. Kelinci liar sekalipun, kalau ditawari wortel; tentu mendekat juga, bukan?
5.      Lakukan dengan ketulusan. Menjadi pemimpin itu memang perlu tulus. Pemimpin yang tulus, jarang sakit hati. Meski ditentang atau dipersulit oleh orang-orang yang sulit. Dia terus berusaha mengajaknya untuk berubah menjadi lebih baik demi kepentingan orang itu sendiri. Dia terus mengupayakannya, meski tetap ditentang atau diremehkan. Sampai kapan? Sampai lepas kewajibannya selama dia memimpin. Artinya, selama jabatan itu melekat dia berkewajiban untuk mengupayakan rekonsiliasi dengan orang-orang sulit agar kinerjanya tetap tinggi. Tapi perlu juga diingat, bahwa ‘jabatan’ kita mempunyai konsekuensi 2 arah, yaitu; kita sebagai atasan dan/atau kita sebagai bawahan. Faktanya, setinggi apapun jabatan Anda, tetap saja Anda adalah bawahan bagi orang yang jabatannya lebih tinggi. Maka konteks pembicaraan kita ini berlaku baik kita memposisikan diri sebagai atasan yang berhubungan dengan bawahan yang kita anggap sulit. Juga berlaku pada saat kita memposisikan diri sebagai bawahan yang mengira bahwa atasan kita adalah orang yang sulit. Dan selama kita melakukannya dengan ketulusan, maka kita bisa menikmatinya terlepas dari posisi apa yang kita mainkan. Karena dengan ketulusan, Anda bisa mengelola orang-orang sulit dengan lebih baik. Termasuk jika yang sulit itu ternyata adalah diri Anda sendiri.
Tidak hanya atasan yang suka menilai bawahannya sebagai orang sulit. Banyak juga bawahan yang menilai atasannya yang justru sulit. Di banyak organisasi atau perusahaan hal seperti itu terjadi. Walhasil kedua pihak saling tuduh sebagai orang yang tidak bisa diajak kerjasama. Atasan memvonis anak buahnya sebagai pembangkang, sedangkan bawahan menganggap atasannya sebagai pemimpin yang sewenang-wenang. Mana yang benar? Yang jelas, seorang pribadi yang baik bersedia melakukan introspeksi kedalam dirinya sendiri sebelum mengarahkan telunjuk kepada orang lain. Lalu dia berusaha untuk  melayani demi kebaikan orang lain. Entah dia sebagai atasan, atau bawahan.  Entah orang lain membalasnya dengan kebaikan, atau tetap menyulitkannya dengan beragam polah dan keburukan. Dia terus konsisten dalam usahanya mewujudkan perbaikan. Sedangkan untuk dirinya sendiri, dia cukupkan Tuhannya sebagai penyantun. ”Hasbunallah wani’mal wakil,” katanya. Cukuplah Allah bagiku, dan Dialah sebaik-baiknya pelindung. Dengan prinsip itu, dia tetap teguh untuk mengupayakan rekonsiliasi dan perbaikan. Dan dengan cara itu, dia memastikan bahwa dirinya sendiri bukanlah orang yang sulit itu.
 
Mari Berbagi Semangat!
Sumber: Bpk. Dadang Kadarusman
Edited by CG

Senin, 02 Januari 2012

Blackberry Special Characters

Bagi anda yang suka ber-BBM ria..pasti terkadang bingung pada teman yang sering menulis status atau membalas komentar dengan teks karakter unik yang menyerupai simbol. KiniA nda tak perlu bingung karena Anda juga bisa menulis karakter unik seperti itu baik di BBM, facebook maupun di tempat manapun yang Anda inginkan.

Berikut daftar blackberry special character (karakter khusus) yang bisa dipakai di BB Anda.

Blackberry Special Character

Currency Codes
¤ $ ¢ £ ¥ ₣ ₤ ₧ € ₯ % ‰

Mathematical Codes
− + ± × ÷ % ‰ = ≠ ≈ ≡ < > ≤ ≥ ∞ ⅛ ¼ ⅜ ½ ⅝ ¾ ⅞ ∫ ∂ ∆ ∏ ∑ √ ∟ ∩ ∙ ƒ ⁄

Punctuation and Other Characters
! " # & ' ( ) * , - . / : ; ? @ [ \ ] ^ _ { | } ~ ‚ „ … † ‡ ‹ ‘ ’ “ ” • – — ™ › ¡ ¦ © ª « ¬ ® ° ² ³ µ ¶ · ¹ º » ¿ ℅ ⁿ § ¨ ― ‣ ‾ ‼ № ← → ↑ ↓ ♀ ♂ ♩ ♪ ♬ ♭ ℠ ⌣ ✆ ✉ ★ ☆ ♂ ♀ ▲ ► ▼ ◄

Miscellaneous Symbols: ☀ ☁ ☂ ☃ ☇ ☎ ☐ ☑ ☹ ☺ ♈ ♉ ♊ ♋ ♌ ♍ ♎ ♏ ♐ ♑ ♒ ♓ ♠ ♤ ♥ ♡ ♦ ♢ ♣ ♧
Latin-1 Supplement
¡ ¢ £ ¤ ¥ ¦ § ¨ © ª « ¬ ® ¯ ° ± ² ³ ´ µ ¶ · ¸ ¹ º » ¼ ½ ¾ ¿
À Á Â Ã Ä Å Æ Ç È É Ê Ë Ì Í Î Ï Ð Ñ Ò Ó Ô Õ Ö × Ø Ù Ú Û Ü Ý Þ ß
à á â ã ä å æ ç è é ê ë ì í î ï ð ñ ò ó ô õ ö ÷ ø ù ú û ü ý þ ÿ

Latin Extended-A
European Latin

Ā ā Ă ă Ą ą Ć ć Ĉ ĉ Ċ ċ Č č Ď ď Đ đ Ē ē Ĕ ĕ Ė ė Ę ę Ě ě Ĝ ĝ Ğ ğ Ġ ġ Ģ ģ Ĥ ĥ Ħ ħ Ĩ ĩ Ī ī Ĭ ĭ Į į I ı IJ ij Ĵ ĵ Ķ ķ ĸ Ĺ ĺ Ļ ļ Ľ ľ Ŀ ŀ Ł ł Ń ń Ņ ņ Ň ň ʼn Ŋ ŋ Ō ō Ŏ ŏ Ő ő Œ œ Ŕ ŕ Ŗ ŗ Ř ř Ś ś Ŝ ŝ Ş ş Š š Ţ ţ Ť ť Ŧ ŧ Ũ ũ Ū ū Ŭ ŭ Ů ů Ű ű Ų ų Ŵ ŵ Ŷ ŷ Ÿ Ź ź Ż ż Ž ž ſ

Latin Extended-B
ƀ Ɓ Ƃ ƃ Ƅ ƅ Ɔ Ƈ ƈ Ɖ Ɗ Ƌ ƌ ƍ Ǝ Ə Ɛ Ƒ ƒ Ɠ Ɣ ƕ Ɩ Ɨ Ƙ ƙ ƚ ƛ Ɯ Ɲ ƞ Ɵ Ơ ơ Ƣ ƣ Ƥ ƥ Ʀ Ƨ ƨ Ʃ ƪ ƫ Ƭ ƭ Ʈ Ư ư Ʊ Ʋ Ƴ ƴ Ƶ ƶ Ʒ Ƹ ƹ ƺ ƻ Ƽ ƽ ƾ ƿ ǀ ǁ ǂ ǃ
LOVƎ

Croatian digraphs matching Serbian Cyrillic letters
DŽ Dž dž LJ Lj lj NJ Nj nj

Pinyin diacritic-vowel combinations
Ǎ ǎ Ǐ ǐ Ǒ ǒ Ǔ ǔ Ǖ ǖ Ǘ ǘ Ǚ ǚ Ǜ ǜ

Additions
ǝ Ǟ ǟ Ǡ ǡ Ǣ ǣ Ǥ ǥ Ǧ ǧ Ǩ ǩ Ǫ ǫ Ǭ ǭ Ǯ ǯ ǰ DZ Dz dz Ǵ ǵ
Ǻ ǻ Ǽ ǽ Ǿ ǿ

Additions for Slovenian and Croatian
Ȁ ȁ Ȃ ȃ Ȅ ȅ Ȇ ȇ Ȉ ȉ Ȋ ȋ Ȍ ȍ Ȏ ȏ Ȑ ȑ Ȓ ȓ Ȕ ȕ Ȗ ȗ

Additions for Romanian
Ș ș Ț ț


Czech, Slovak, and Slovenian
Á á Ą ą Ä ä É é Ę ę Ě ě Í í Ó ó Ô ô Ú ú Ů ů Ý ý Č č ď ť Ĺ ĺ Ň ň Ŕ ŕ Ř ř Š š Ž ž

French
À à Â â Æ æ Ç ç È è É é Ê ê Ë ë Î î Ï ï Ô ô Œ œ Ù ù Û û Ü ü « » € ₣

German
Ä ä É é Ö ö Ü ü ß « » „ “ ” ° € £

Greek
Α α Β β Γ γ Δ δ Ε ε Ζ ζ Η η Θ θ Ι ι Κ κ Λ λ Μ μ Ν ν Ξ ξ Ο ο Π π Ρ ρ Σ σ ς Τ τ Υ υ Φ φ Χ χ Ψ ψ Ω ω
Based on ISO 8859-7
ʹ ͵ ͺ ; ΄ ΅ Ά · Έ Ή Ί Ό Ύ Ώ ΐ Α Β Γ Δ Ε Ζ Η Θ Ι Κ Λ Μ Ν Ξ Ο Π Ρ Σ Τ Υ Φ Χ Ψ Ω Ϊ Ϋ ά έ ή ί ΰ α β γ δ ε ζ η θ ι κ λ μ ν ξ ο π ρ ς σ τ υ φ χ ψ ω ϊ ϋ ό ύ ώ

Variant Letterforms: ϐ ϑ ϒ ϓ ϔ ϕ ϖ ϗ
Archaic Letters: Ϙ ϙ Ϛ ϛ Ϝ ϝ Ϟ ϟ Ϡ ϡ
[  ] BlackBerry Logo
[ ¡ ] inverted exclamation mark
[ ¢ ] cent
[ £ ] pound
[ ¤ ] currency
[ ¥ ] yen
[ € ] euro sign
[ ¦ ] broken vertical bar
[ § ] section
[ ¨ ] spacing diaeresis
[ © ] copyright
[ ª ] feminine ordinal indicator
[ « ] left angle quotation mark
[ ¬ ] negation
[ ] soft hyphen
[ ® ] registered trademark
[ ™ ] trademark
[ ¯ ] spacing macron
[ ° ] degree - e.g. 45°
[ ± ] plus-or-minus
[ ² ] superscript 2
[ ³ ] superscript 3
[ ´ ] spacing acute
[ µ ] micro
[ ¶ ] paragraph
[ · ] middle dot
[ ¸ ] spacing cedilla
[ ¹ ] superscript 1
[ º ] masculine ordinal indicator
[ » ] right angle quotation mark
[ ¼ ] fraction 1/4
[ ½ ] fraction 1/2
[ ¾ ] fraction 3/4
[ ¿ ] inverted question mark
[ × ] multiplication
[ ÷ ] division
More Miscellaneous Symbols
[ ℠ ] Service Mark
[ ℃ ] Celsius
[ ℅ ] care of
[ ℉ ] Farenheit
[ № ] numero symbol - number sign
[ ℗ ] Sound Recording Copyright
[ ℞ ] Prescription Take pharmaceutical symbol
[ Ω ] Ohm
[ ℧ ] Inverted Ohm
[ ☀ ] sunshine - sun
[ ☁ ] cloudy - cloud
[ ☂ ] raining - rain
[ ☃ ] snow - snowman
[ ☄ ] comet
[ ★ ] star solid
[ ☆ ] star outline
[ ☇ ] lightning
[ ☈ ] thunderstorm
[ ☉ ] sun
[ ☊ ] ascending node
[ ☋ ] descending node
[ ☌ ] conjunction
[ ☍ ] opposition
[ ☎ ] phone number - phone service
[ ☏ ] phone symbol outline
[ ☐ ] check box - ballot box
[ ☑ ] ballot box check mark
[ ☒ ] ballot box with X
[ ☓ ] Saltire - St. Andrew's Cross
[ ☚ ] left-pointing index finger
[ ☛ ] right-pointing index finger
[ ☜ ] left-pointing index finger
[ ☝ ] upwards pointing index finger
[ ☞ ] right pointing index finger
[ ☟ ] downwards pointing index finger
[ ☠ ] skull & crossbones
[ ☡ ] caution sign
[ ☢ ] radioactive sign
[ ☤ ] Caduceus or "Kerykeion"
[ ☥ ] Ankh
[ ☦ ] Eastern Christian Cross
[ ☧ ] Chi Rho Cross
[ ☨ ] Patriarchal Cross
[ ☩ ] Greek Cross
[ ☪ ] Crescent Moon & Star
[ ☫ ] Farsi symbol
[ ☬ ] Adi Shakti
[ ☭ ] hammer & sickle
[ ☮ ] peace sign
[ ☯ ] yin & yang
[ ☰ ] trigram Heaven
[ ☱ ] trigram Lake
[ ☲ ] trigram Fire
[ ☳ ] trigram Thunder
[ ☴ ] trigram Wind
[ ☵ ] trigram Water
[ ☶ ] trigram Mountain
[ ☷ ] trigram Heaven
[ ☸ ] Dharma Wheel
[ ☹ ] frowning face
[ ☺ ] smiley face
[ ☻ ] black smiley face
[ ◊ ] lozenge
Letterlike Symbols
[ ℘ ] script capital P = power set = Weierstrass p
[ ℑ ] blackletter capital I = imaginary part
[ ℜ ] blackletter capital R = real part symbol
[ ℵ ] alef symbol = first transfinite cardinal
[ ← ] leftwards arrow
[ ↑ ] upwards arrow
[ → ] rightwards arrow
[ ↓ ] downwards arrow
[ ↔ ] left right arrow
[ ↵ ] downwards arrow with corner leftwards = carriage return
[ ⇐ ] leftwards double arrow
[ ⇑ ] upwards double arrow
[ ⇒ ] rightwards double arrow
[ ⇓ ] downwards double arrow
[ ⇔ ] left right double arrow
Celestial and Astrological Symbols
[ ☽ ] waxing crescent moon
[ ☾ ] waning crescent moon
[ ☿ ] Mercury
[ ♀ ] Venus - Female symbol
[ ♁ ] Earth symbol
[ ♂ ] Mars - Male symbol
[ ♃ ] Jupiter
[ ♄ ] Saturn
[ ♅ ] Uranus
[ ♆ ] Neptune
[ ♇ ] Pluto
[ ♈ ] Aries
[ ♉ ] Taurus
[ ♊ ] Gemini
[ ♋ ] Cancer
[ ♌ ] Leo
[ ♍ ] Virgo
[ ♎ ] Libra
[ ♏ ] Scorpio
[ ♐ ] Sagitarius
[ ♑ ] Capricorn
[ ♒ ] Aquarius
[ ♓ ] Pisces
Cards
[ ♔ ] White King
[ ♕ ] White Queen
[ ♖ ] White Rook
[ ♗ ] White Bishop
[ ♘ ] White Knight
[ ♙ ] White Pawn
[ ♚ ] Black King
[ ♛ ] Black Queen
[ ♜ ] Black Rook
[ ♝ ] Black Bishop
[ ♞ ] Black Knight
[ ♟ ] Black Pawn
[ ♠ ] black spade suit
[ ♡ ] red heart suit
[ ♢ ] red diamond suit
[ ♣ ] black club suit = shamrock
[ ♤ ] red spade suit
[ ♥ ] black heart suit = valentine
[ ♦ ] black diamond suit
[ ♧ ] red club suit
Musical Symbols
[ ♩ ] musicalquarter note
[ ♪ ] musical eighth note
[ ♫ ] musical single bar note
[ ♬ ] musical double bar note
[ ♭ ] flat note
[ ♮ ] natural note
[ ♯ ] sharp note]
Miscellaneous
[ ♨ ] hot springs
[ ✁ ] cut above
[ ✂ ] cut here
[ ✃ ] cut below
[ ✄ ] scissors]
[ ✆ ] public pay phone
[ ✇ ] film reel - tape spool
[ ✈ ] airport jet airplane
[ ✉ ] envelope mail email
[ ✌ ] victory sign
[ ✍ ] signature - sign here
[ ✎ ] pencil diagonal down
[ ✏ ] pencil
[ ✐ ] pencil diagonal up
[ ✓ ] check mark
[ ✔ ] heavy check mark
[ ✕ ] multiplication sign X
[ ✖ ] heavy multiplication sign X
[ ✗ ] ballot X
[ ✘ ] heavy ballot X
[ ✝ ] Latin Roman Cross
[ ✞ ] Latin Cross 3D shadow
[ ✟ ] Latin Cross outline
[ ✠ ] Maltese Cross
[ ✡ ] Star of David
[ ❛ ] quotation mark single turned comma
[ ❜ ] quotation mark single comma
[ ❝ ] quotation mark double turned comma
[ ❞ ] quotation mark double comma
Celestial and Astrological Symbols
[ ☽ ] waxing crescent moon
[ ☾ ] waning crescent moon
[ ☿ ] Mercury
[ ♀ ] Venus - Female symbol
[ ♁ ] Earth symbol
[ ♂ ] Mars - Male symbol
[ ♃ ] Jupiter
[ ♄ ] Saturn
[ ♅ ] Uranus
[ ♆ ] Neptune
[ ♇ ] Pluto
[ ♈ ] Aries
[ ♉ ] Taurus
[ ♊ ] Gemini
[ ♋ ] Cancer
[ ♌ ] Leo
[ ♍ ] Virgo
[ ♎ ] Libra
[ ♏ ] Scorpio
[ ♐ ] Sagitarius
[ ♑ ] Capricorn
[ ♒ ] Aquarius
[ ♓ ] Pisces

 ☎ ☇ ☁ ☂ ♥ ♣ ♠ ♦ © ® ™ ☂ ☃ ☁ ☇ ⌣ ¶ ¿ § ø œ Œ Þ ™ ♥ ♣ ♠ ♦ ☎ ♍ ♑ ♉ ♐ ♈ ♒ ♋ ♌ ♎ Σ Λ Γ ☑ ☀ Æ ⇆ ☎ ✆ ✉ ♊ ♏ ♓ ‪ Δ Ψ Φ Θ Ξ Ω ♢ ♤ ♧ ♡ Π​ Σ † τ λ ※ ▲ △ ▼ ▽ № • ◦♏♠ ♥ ♣ ▲ ▼ ☎ ☁ ☂ ♋ ☇ ☺ ♡ ♑ ♌ † ♓ ♊ ♐ ✉ ⌣ ☎ ☑ ✆ ✉ ☀ ♠♣♥♦ ♈ ♉ ♊ ♋ ♌ ♍ ♎ ♏ ♐ ♑ ♒ ♓  Δ Σ Λ Γ Ψ Φ Θ Ξ Ω ♢ ♤ ♧ ♡ ☂ ☆ ★♠ ♦ ♣ ♡ ♥  © ® ☺ § ™ ¤ ♂ ♀ * ☂ ☃ ☁ ☇ ⌣ ♋ ¶ ø œ Œ ¹²³ ¬ ∞ ° • o ‰ ∏ µ Δ Ω √ ¢ ¥ € £ ƒ $ ≤ ≥ ± ≠ ~ ≈ ¼ ½ ¾ (( )) [ < { « ~ = ± “ ^ % ] > } » \ ÷ ` ” | ∫ ∑ † ‡ … ¦ ¿ ¡¤ ± µ ð̀́ Ώ Δ Θ έ ζ‍‍ ‍† ‡ ₣ ¬ ª ¯ ÷ Ξ♥ ♦ ♣ ♠ ▲ ► ▼ ◄º ¹ ² ¼ ½ ¾

 

Minggu, 01 Januari 2012

Bagaimana Rencana Keuangan Anda di Tahun 2012?

Apa kabar, sobat? Selamat datang di tahun 2012 ya. Bagaimana dengan resolusi Anda. Sudah dibuat belum? Wah, buat dong... Ditulis ya... Jangan dihafal di luar kepala. Kalau dihafal di luar kepala, saya jamin pasti cepat hilang dihembus angin. Hehehehe...

Mudah-mudahan dengan memasuki tahun yang baru, semangat jadi baru, hidup jadi baru kembali, asal jangan punya isteri baru. Hahaha...

Oke, kali ini saya akan sharing tentang tips rencana keuangan di tahun 2012. Nah, mudah-mudahan tulisan kali ini berguna. 

Kebanyakan dari kita kalau pergi ke bank untuk menabung. Betul? Tapi tak ada salahnya juga kita mulai melirik produk-produk investasi yang ditawarkan oleh bank. Bank-bank konvensional maupun syariah saat ini mulai banyak menawarkan produk-produk investasi. Produk-produk yang dimaksud seperti emas, reksadana, unit link, giro, dan lain-lain. Ini bisa menjadi pertimbangan bagi Anda yang ingin berinvestasi lewat bank.
Ada dua hal yang diperlukan untuk berinvestasi:
  1. Pengetahuan
  2. Kemauan berinvestasi secara rutin
Untuk berinvestasi ada ilmunya. Jadi gak sembarang-sembarang saja untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk berinvestasi. Dengan pengetahuan yang cukup, itu adalah modal awal Anda untuk berinvestasi. Kita pun harus memiliki kemauan dan abiliti untuk berinvestasi secara rutin.  Investasi secara rutin tentu akan menghidupkan kegiatan investasi Anda dan menambah pundi-pundi deviden di rekening Anda.

Untuk tahun 2012, menurut Safir Senduk, seorang pakar keuangan Indonesia, investasi yang baik adalah saham. Investasi yang baik adalah membeli saham ketika harga turun dan menjual kembali jika harga sedang naik. 

Sebenarnya ada dua tipe orang yang membeli saham:
  1. Orang yang membeli saham untuk dijual kembali.
  2. Orang yang membeli saham untuk disimpan untuk jangka panjang dengan harapan deviden (keuntungan).
Kedua tipe tersebut sama-sama baik. Tergantung bagaimana seseorang menempati keadaannya saat dia ingin menjadi tipe investor yang mana. 
Nah, khusus untuk di tahun 2012 yang perlu diperhatikan ketika merencanakan keuangan Anda adalah sebagai berikut.
  1. Tentukan sumber income. Lihat pada tahun ini dan berkacalah pada tahun yang lalu. Apakah Anda perku berganti profesi atau membuka usaha. Jika dirasakan perlu, take action sejak dini untuk hunting perusahaan atau tempat kerja yang lebih baik (sambil membuka usaha kecil-kecilan, saran saya). 
  2. Mulai buat aset yang produktif. Maksudnya adalah yang bisa memberi income cukup lama. Dalam artian kata, bukan menyimpan sejumlah uang di celengan babi.
  3. Hati-hati dengan barang konsumtif. Buat komitmen pada diri sendiri untuk tidak tergoda lagi dengan budaya konsumerisme. Ini bukan hanya mengenai pengetatan anggaran keuangan Anda, ini lebih dari ke karakteristik (life style) Anda. Suai?
  4. Mulailah ber-invest secara bulanan. Ada uang atau tidak, usahakan menyisihkan 10% tiap bulan untuk investasi.
  5. Selektif dengan tawaran kredit. Yang perlu Anda perhatikan di sini adalah: tempat tinggal dan kendaraannya.
Jadi, bagaimana rencana keuangan Anda di tahun 2012?

Selamat Tahun Baru Syamsiyah 2012 Masehi

Tahun baru adalah awal kita berinstropeksi & beresolusi utk hari-hari berikutnya. Cukup berkaca pada tahun yang lalu, ambil hikmahnya & berbuat yg terbaik serta lebih baik di tahun 2012. Lebih banyaklah memberi manfaat bagi org lain. Mudah-mudahan Tuhan selalu menyertai langkah kita. Happy new year 2012.