Ini cuplikan tentang kondisi Indonesia tahun 1955, di klip ini bertepatan dengan Shalat Ied pada Hari Raya Idul Fitri tahun 1955. Gambar ini diambil oleh Jurnalis Belanda.
Video klip ini berwarna dan sangat klasik!
Blog ini dibuat untuk saling berbagi, berbisnis, berpromosi, menjalin silaturrahmi dan saling berbagi informasi. Semoga ini memperkaya khazanah jiwa dan raga kita untuk menjalani kehidupan.
Selasa, 19 Oktober 2010
Minggu, 17 Oktober 2010
Cerita Di Balik Kesuksesan "TELA KREZZ"
Usianya baru 26 tahun, namun Firmansyah Budi Prasetyo, warga Jalan Bugisan, Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta, sukses menapaki usaha snack (penganan) singkong. Dalam waktu 11 bulan, usaha itu melesat melalui pola waralaba dengan jumlah gerai mencapai 250 unit.
Usaha itu bermula saat Firmansyah, yang biasa disapa Firman, melihat gerobak dibiarkan teronggok di rumah selama berbulan-bulan. Gerobak itu semula dibeli ibunya untuk menjajakan gorengan. Namun, usaha itu urung dijalankan.
Melihat gerobak “menganggur”, muncul ide Firman untuk mendirikan usaha makanan dengan gerobak. Kesadaran akan potensi singkong di wilayah DI Yogyakarta menumbuhkan gagasan berkreasi dengan produk pangan sepanjang musim itu.
“Singkong mudah didapat karena ditanam hampir di seluruh wilayah di Indonesia sehingga pengolahannya dapat dilakukan siapa pun,” kata Firman yang mengembangkan usaha itu sejak Februari 2007.
Berbekal modal awal Rp 3 juta, ia mengolah bahan pangan itu secara cermat, hingga terasa renyah. Makanan ringan yang diberi merek Tela Krezz itu berbentuk balok-balok seukuran jari kelingking dan hampir 90 persen komponennya terbuat dari singkong.
“Saya melakukan uji coba beberapa kali sampai menemukan resep untuk membuat singkong lunak seperti kentang. Singkong yang sudah lunak itu diberi aneka bumbu sehingga rasanya bervariasi,” ujarnya.
Usaha itu bermula saat Firmansyah, yang biasa disapa Firman, melihat gerobak dibiarkan teronggok di rumah selama berbulan-bulan. Gerobak itu semula dibeli ibunya untuk menjajakan gorengan. Namun, usaha itu urung dijalankan.
Melihat gerobak “menganggur”, muncul ide Firman untuk mendirikan usaha makanan dengan gerobak. Kesadaran akan potensi singkong di wilayah DI Yogyakarta menumbuhkan gagasan berkreasi dengan produk pangan sepanjang musim itu.
“Singkong mudah didapat karena ditanam hampir di seluruh wilayah di Indonesia sehingga pengolahannya dapat dilakukan siapa pun,” kata Firman yang mengembangkan usaha itu sejak Februari 2007.
Berbekal modal awal Rp 3 juta, ia mengolah bahan pangan itu secara cermat, hingga terasa renyah. Makanan ringan yang diberi merek Tela Krezz itu berbentuk balok-balok seukuran jari kelingking dan hampir 90 persen komponennya terbuat dari singkong.
“Saya melakukan uji coba beberapa kali sampai menemukan resep untuk membuat singkong lunak seperti kentang. Singkong yang sudah lunak itu diberi aneka bumbu sehingga rasanya bervariasi,” ujarnya.
Gerobak yang menjadi sarana untuk berjualan memanfaatkan peralatan masak sederhana, serupa dengan peralatan masak di dapur rumah. Guna memberi cita rasa, penganan itu diberi bumbu yang kini telah berkembang menjadi 14 jenis rasa.
Dengan modal awal itu pula Firman berupaya memperkenalkan produknya secara massal kepada konsumen. Arena pameran menjadi media ampuh dalam berpromosi. Sejak mengikuti beberapa pameran, pesanan terus mengalir dari dalam dan luar Yogyakarta, di antaranya dari Jawa Tengah. Usaha itu berkembang, Firman lalu merekrut delapan karyawan.
Modal Terbatas
Ketika usahanya beranjak maju, pemuda lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada tahun 2004 itu tertantang untuk melebarkan sayap usaha. Menyadari modal usahanya terbatas, dia mencoba mengadopsi pola bisnis waralaba.
Untuk membuka sebuah gerai Tela Krezz, pembeli lisensi atau pewaralaba dikenai biaya dana Rp 3,5 juta sampai Rp 6 juta, disesuaikan dengan lokasi. Dengan dana tersebut, pewaralaba juga mendapatkan pelatihan operasional dan manajerial usaha, termasuk cara memilih singkong yang berkualitas baik.
Bahan baku singkong diperoleh dari setiap lokasi waralaba demi menghemat biaya transportasi. Sementara itu, bumbu dasar untuk pelunak singkong dan bumbu rasa snack didatangkannya ke setiap gerai waralaba.
Di setiap provinsi yang menjadi lokasi waralaba terdapat satu pewaralaba yang sekaligus menjadi pemasok bumbu ke pewaralaba lainnya di wilayah itu. Untuk menjadi pewaralaba sekaligus pemasok, total biaya yang dikenakan sebesar Rp 12 juta sampai Rp 15 juta, sesuai dengan lokasi.
Untuk membuka gerai baru, komunikasi dengan para calon klien dilakukan Firman hanya lewat telepon seluler atau surat elektronik (e-mail). Awalnya, bisnis dengan pola komunikasi yang mengandalkan sarana elektronik itu menuai keraguan para calon mitra, khususnya di daerah luar Jawa.
Namun, Firman mampu membuktikan, bisnis adalah sebuah kepercayaan. Kepercayaan itu diwujudkan tidak hanya dalam menjaga mutu produk dan kecepatan waktu pelayanan, melainkan mengedepankan manfaat bagi sesama.
Ketepatan waktu dia buktikan dengan pembukaan gerai dalam waktu 14 hari sejak transaksi. Untuk memperluas kemitraan, ia memberi bonus bagi pemegang lisensi yang menambah mitra usaha dan agen. “Dengan prinsip saling berbagi dengan mitra dan agen, niscaya usaha kita akan maju bersama-sama,” ucap Firman.
Di setiap wilayah, singkong yang diolah rata-rata mencapai 300-500 kilogram per hari. Sejumlah 300-500 kilogram singkong itu menghasilkan 1.200 sampai 2.000 bungkus.
Usaha kecil dan menengah (UKM) berpola waralaba Firman pun maju pesat. Usaha itu berkembang di 32 kabupaten dan kota, di antaranya Nunukan, Malang, Samarinda, Balikpapan, Medan, Jambi, Batam, dan Banjarmasin. Omzet total usaha berpola waralaba itu mencapai Rp 300 juta setiap bulan.
Dari usahanya itu, ia mendapat tambahan modal. Dia lalu merambah bidang usaha lain seperti bisnis binatu, restoran steak, dan chicken chick’s. Ia pun tak ragu meminjam dana bank. Total karyawan yang dia pekerjakan bertambah menjadi 30 orang.
Untuk usahanya dalam meningkatkan nilai produk pangan, Firman mendapat penghargaan UKM Award dari Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM pada 2007.
Lapangan Kerja
Sebelum menjadi pengusaha, Firman malang-melintang di berbagai organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, pascalulus kuliah. Anak pegawai negeri itu mulai berpikir terjun ke dunia bisnis sewaktu bertemu dengan beberapa imigran gelap asal Indonesia yang terpaksa hijrah ke negeri jiran melalui Nunukan, Kalimantan Timur, demi mendapatkan pekerjaan.
“Saya bertanya-tanya, di mana peran pemerintah untuk menyerap lapangan kerja? Kalau bukan kita yang berusaha membuka lapangan kerja, sampai kapan pun pencari kerja gelap ke luar negeri akan terus ada,” ujarnya.
Sejak awal ia meyakini, dalam suatu usaha itu standardisasi sangat penting. “Apa pun bentuk usahanya, jika dilakukan dengan standardisasi jelas, usaha itu pasti jalan,” kata anak sulung dari tiga bersaudara itu.
Pola waralaba diyakininya efektif untuk membuka lapangan kerja. Konsep kemitraan menjadi pilihan dia untuk mengembangkan bisnis tanpa perlu modal besar, namun tetap bisa menyerap tenaga kerja.
Memasuki tahun 2008, Firman berencana mengembangkan UKM berpola waralaba itu, terutama ke daerah luar Jawa. Ia berharap potensi singkong di luar Jawa bisa berkembang seiring peningkatan nilai tambah produk itu. Ia juga berencana menciptakan variasi produk singkong lainnya dalam bentuk dan rasa yang berbeda.
Di sela kesibukan berusaha, pemuda lajang itu kerap memberikan pelatihan berbisnis untuk kelompok-kelompok mahasiswa tingkat akhir perguruan tinggi negeri dan swasta.
“Saya ingin mengajak generasi muda untuk tidak menggantungkan penghasilan pada penyedia lapangan kerja, tetapi menciptakan usaha. Modal kecil bukan halangan, yang penting kreativitas,” ucapnya.
Jumat, 15 Oktober 2010
Wow! Kekayaan Orang Indonesia Bertambah
Lembaga Riset The Credit Suisse menyebutkan total kekayaan orang Indonesia tumbuh lima kali lipat dalam satu dekade terakhir mencapai 1,8 triliun dolar AS pada 2010.
Angka itu akan naik lagi dua kali lipat menjadi 3,0 triliun dolar pada 2015. Siaran pers The Credit Suisse yang diterima di Jakarta, Kamis mengatakan, kekayaan rata-rata orang dewasa di Indonesia juga melesat 384 persen sejak tahun 2000 menjadi 12.112 dolar yang merupakan pertumbuhan tercepat di Asia Pacific dan tertinggi keempat di dunia.
Lebih dari 90 persen kekayaan rumah tangga di Indonesia adalah aset non finansial, terutama property. Aset finansial hanya menyumbang kurang dari 10 persen selama satu dekade terakhir. Dari total populasi, sekitar 20 persen penduduknya berada di bagian tengah piramida kekayaan (dengan rata-rata kekayaan berkisar dari 10.000-100.000 dolar) dan mayoritas penduduk memiliki kekayaan di bawah 10.000 per orang dewasa. Laporan tersebut menunjukkan, bahwa kekayaan global yang dimiliki 4,4 miliar orang dewasa telah bertumbuh 72 persen sejak 2000 dan mencapai 195 triliun dolar. Didorong oleh ekspansi ekonomi di negara-negara berkembang, Credit Suisse Research Institute memperkirakan kekayaan global akan meningkat 61 persen menjadi 315 triliun dolar pada 2015.
Bagian tengah dari piramida kekayaan terdiri dari satu miliar penduduk dunia yang berdomisili di negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia dan menguasai seperenam atau 32 triliun dolar dari kekayaan global. Secara keseluruhan, hampir 60 persen atau 587 juta orang di bagian tengah piramida kekayaan berdomisili di Asia Pacifik. China tercatat sebagai negara penghasil orang kaya terbesar ketiga di dunia, hanya tertinggal dari Amerika Serikat da Jepang, serta 35 persen di depan Perancis sebagai negara terkaya Eropa.
Angka itu akan naik lagi dua kali lipat menjadi 3,0 triliun dolar pada 2015. Siaran pers The Credit Suisse yang diterima di Jakarta, Kamis mengatakan, kekayaan rata-rata orang dewasa di Indonesia juga melesat 384 persen sejak tahun 2000 menjadi 12.112 dolar yang merupakan pertumbuhan tercepat di Asia Pacific dan tertinggi keempat di dunia.
Lebih dari 90 persen kekayaan rumah tangga di Indonesia adalah aset non finansial, terutama property. Aset finansial hanya menyumbang kurang dari 10 persen selama satu dekade terakhir. Dari total populasi, sekitar 20 persen penduduknya berada di bagian tengah piramida kekayaan (dengan rata-rata kekayaan berkisar dari 10.000-100.000 dolar) dan mayoritas penduduk memiliki kekayaan di bawah 10.000 per orang dewasa. Laporan tersebut menunjukkan, bahwa kekayaan global yang dimiliki 4,4 miliar orang dewasa telah bertumbuh 72 persen sejak 2000 dan mencapai 195 triliun dolar. Didorong oleh ekspansi ekonomi di negara-negara berkembang, Credit Suisse Research Institute memperkirakan kekayaan global akan meningkat 61 persen menjadi 315 triliun dolar pada 2015.
Bagian tengah dari piramida kekayaan terdiri dari satu miliar penduduk dunia yang berdomisili di negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia dan menguasai seperenam atau 32 triliun dolar dari kekayaan global. Secara keseluruhan, hampir 60 persen atau 587 juta orang di bagian tengah piramida kekayaan berdomisili di Asia Pacifik. China tercatat sebagai negara penghasil orang kaya terbesar ketiga di dunia, hanya tertinggal dari Amerika Serikat da Jepang, serta 35 persen di depan Perancis sebagai negara terkaya Eropa.
Rabu, 13 Oktober 2010
Raja Ali Haji
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca. 1808- Riau, ca. 1873) adalah ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.
Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.Kompleks makam beliau di pulau Penyengat, Tanjung PinangKompleks makam beliau di pulau Penyengat, Tanjung PinangKarya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara.
Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis ("Bingkisan Berharga" tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan.Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5 November tahun 2004.
Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.Kompleks makam beliau di pulau Penyengat, Tanjung PinangKompleks makam beliau di pulau Penyengat, Tanjung PinangKarya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara.
Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis ("Bingkisan Berharga" tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan.Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5 November tahun 2004.
Selasa, 12 Oktober 2010
Saya Makhluk Yang Luar Biasa!
Malam ini, ya... Saya membuat tulisan malam ini; saya hanya ingin mengekspresikan sesuatu hal yang ada di dalam hatiku bahwa saya adalah seorang pribadi yang luar biasa. Saya adalah sebuah mutiara yang berkilau, laksana batu safir biru yang berada jauh di dasar kubangan yang besar. Tanpa kusadari bahwa saya adalah seorang pribadi yang luar biasa. Saya juga berkeyakinan bahwa Anda juga demikian.
Hidup ini sangat singkat, kawan. Engkau hidup di dunia yang keras. Hidup di mana engkau tinggal di antara makhluk emosional. Ya, makhluk itu dikenal dengan nama manusia. Engkau adalah termasuk di antara sekian banyaknya, kawan.
Engkau adalah zat yang diciptakan Allah SWT menjadi seorang pribadi yang luarbiasa. Anda tidak percaya??? Astaghfirullah alaziim... Kenapa engkau tidak percaya? Percayalah... Bergeraklah! Dan lihatlah apa yang terjadi di sekeliling Anda!
Hidup ini sangat singkat, kawan. Engkau hidup di dunia yang keras. Hidup di mana engkau tinggal di antara makhluk emosional. Ya, makhluk itu dikenal dengan nama manusia. Engkau adalah termasuk di antara sekian banyaknya, kawan.
Engkau adalah zat yang diciptakan Allah SWT menjadi seorang pribadi yang luarbiasa. Anda tidak percaya??? Astaghfirullah alaziim... Kenapa engkau tidak percaya? Percayalah... Bergeraklah! Dan lihatlah apa yang terjadi di sekeliling Anda!
Langganan:
Postingan (Atom)
